How to Save a Life part 2

 





-Everything. . New-

"uhh. . . . iya ibu. . obatnya sudah ada . . uh"

sesaat setelah aku mengatakan itu, mataku pun terbuka secara perlahan. aku melihat langit -langit kamarku yang terlihat sudah terang akibat cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden jendelaku. suasana di ruangan itu sudah mulai menghangat, menandakan matahari sudah terbang tinggi. aku pun menarik tubuhku yang masih terasa berat itu sampai terduduk di ranjangku.

"uhh. . selamat pagi. . ." kataku perlahan sambil merapikan rambutku

"selamat pagi. . tuan. ." 


"eh? a. . whoaaaa~" jeritku

seluruh tubuhku melompat hingga beberapa cm dari pinggir kasurku. mataku sedikit melotot seketika aku melihat Sylvie sudah terduduk di lantai tepat di sebelah ranjangku.

"sy. sylvie a. . apa yang kamu lakukan disini?" kataku

"ma. .maafkan aku tuan, s. . sylvie sudah lancang. . sylvie akan menghukum diri. . " kata sylvie sambil mengangkat tangannya

"he. .hey. . tidak, bukan itu maksudku. . sudahlah sylvie" kataku sambil menangkap tangannya 

". . . . ." 

sylvie hanya terdiam saja sambil menatapku dengan wajah yang sedikit muram. aku pun melepaskan tangan sylvie sambil menuntunnya untuk berdiri. 

"hey. .coba beritahu aku. . mengapa kamu selalu ingin menghukum dirimu sendiri atas apapun yang kamu lakukan?" tanyaku

". . . . ." 

"tidak ada yang perlu kamu takutkan. . aku tidak akan marah. ." kataku 

". . tuanku. . dahulu. .uh. .dia tidak suka apabila aku tidak berguna dan tidak bekerja atas kemauannya. ." kata sylvie sambil sedikit menundukkan kepalanya.

"hmm. . lalu ia memintamu untuk menghukum dirimu sendiri?" tanyaku

". . . . ." 

sylvie hanya terdiam saja sambil sesekali menatap mataku. tampaknya sylvie masih belum ingin menceritakan tentang masa lalunya. 

"baiklah sylvie. . kalau begitu aku akan mandi dahulu, setelah itu akan kuberikan kamu handuk dan kamu bisa bersihkan dirimu. . okay?" kataku sambil beranjak dari kasurku

aku mengelus kepala sylvie sebelum akhirnya meninggalkan kamarku. setelah selesai membersihkan diriku dan mengenakan pakaian kerjaku, aku pun pergi menemui sylvie di ruangan tempat ia beristirahat. 

 


"sylvie. . ini aku bawakan handuk, kamu bisa menggunakan kamar mandi di kamarku untuk membersihkan dirimu dan. . ." 

sesaat sebelum aku menyelesaikan kata - kataku, aku melihat pakaian sylvie yang terlihat lusuh dan kotor. sylvie pun menatapku dengan wajah datar. 

"iya. . tuan?" katanya

"uh. . ti. .tidak, sylvie aku memiliki satu permintaan, setelah ini aku akan bekerja di ruang periksa, kamu diam di ruangan ini saja ya, atau di ruanganku. ." kataku

". . . . "

sylvie hanya mengangguk saja sambil menerima handuk yang ku bawakan. aku pun pergi meninggalkan sylvie di ruangannya. seperti biasa, aku membuka tempat praktikku sampai diriku tidak sempat memperhatikan waktu. 

"terima kasih banyak dokter. . hiks. . terima kasih" 

"i. .iya, ingat selalu untuk mengkonsumsi obatnya setelah makan 3x sehari yaa. . semoga setelah menggunakan obat ini, semua gejala dapat teratasi atau setidaknya ada perbaikan dari kondisi ibu. ." kataku sambil memberikan bebera pil obat pemberian Ferrum itu

ibu itu tampak tersenyum bahagia setelah menerima obat yang kuberikan. 

"dokter.  . tidakkah kau kesepian tinggal di tempat ini sendirian?" tanya ibu itu

"eh? ha. haha. .ti. tidak. . aku mungkin sudah terbiasa bekerja dan tinggal sendirian" kataku sambil mengelus rambutku.

"jangan biarkan pekerjaanmu menganggu kehidupanmu dok. . percayalah, tidak ada manusia yang sanggup hidup sendiri selamanya . ." kata ibu itu

"haha. . mungkin. .memang belum bertemu dengan orang yang pas saja. .haha. ." kataku sambil tertawa

"ah? dokter. . aku tidak mengetahui kalau dirimu sudah memiliki anak gadis. ." kata ibu itu

"eh? anak? gadis?" kataku dengan wajah kebingungan

"itu. . di dekat pintu masuk. ." 

dengan cepat aku memalingkan wajahku ke arah pintu masuk. aku melihat sylvie sedang mengintip dari sela pintu tersebut. sylvie kemudian menyadari kalau aku sedang menatapnya dari dalam ruangan, ia pun kemudian melarikan diri. 

"i. itu bukan anakku. .dia seorang anak yatim. .yang kutemukan. ." kataku sedikit panik

"waah. . kamu mengadopsinya? sungguh pria yang baik hati. . " kata ibu itu

"ah? ahaha. . te. terima kasih. ." kataku

hari itu pasien yang datang berkunjung tidaklah banyak, sehingga aku dapat menutup tempat kerjaku lebih cepat. Sylvie pun menghampiriku di ruang kerjaku, ia hanya terdiam saja sambil duduk di lantai. 

"sylvie. . maafkan aku yaa tidak dapat menemanimu sepanjang hari tadi. . kamu merasa bosan ya?" tanyaku

"ti.. tidak tuan. .aku tidak keberatan. .asalkan tuan berkenan" katanya

aku menghela nafas panjang  sambil meletakkan kotak berisikan dokumen pasienku ke dalam rak.  aku kemudian menuntun sylvie untuk duduk di kursi tempat pasienku biasa terduduk. aku pun meraba kepalanya sambil tersenyum kepadanya. 

"sylvie. . dengarkan aku. . semua yang ada disini, tempat ini, kamarmu, makananmu, bahkan aku. . tidaklah seperti tuanmu di masa lalu. . aku tidak akan mencoba untuk melakukan sesuatu yang bisa membahayakanmu, atau menyakitimu. . kamu mengerti?" kataku

". . . ."

sylvie memalingkan wajahnnya sambil tertunduk. aku pun mencoba untuk memaksanya untuk menatapku, aku memegang kedua pipinya dan mengangkat wajahnya.

"sylvie. . jawab aku kalau aku bertanya kepadamu. ." kataku sambil menatap wajahnya

rambut sylvie pun terjatuh ke balik lehernya, memperlihatkan wajahnya secara keseluruhan. aku dapat melihat bekas luka berwarna kemerahan tepat di atas mata kanan slvie dan memanjang sampai pangkal rambutnya. 

"b. .baiklah tuan. .a. .apabila tuan berkenan. ." katanya sambil memalingkan wajahnya

aku memasang wajah yang serius sambil terus menatap sylvie yang masih tetap melirik ke arah lantai. 

"baguslah kalau kamu sudah mengerti. . ayo kita makan!" kataku sambil tersenyum

aku pun berjalan dengan cepat menuju dapur, dan sylvie seperti biasa hanya mengikutiku dari belakang. 

"kamu ingin makan apa sylvie?" tanyaku

"uh . . a. .apapun yang tuan berkenan. ." katanya

"sylvie. .kamu harus mulai bisa mengutarakan apa yang kamu mau. . jangan hanya berdasarkan dari apa yang aku mau. . nanti kalau aku suruh kamu berbuat jahat, apakah kamu mau melakukannya?" kataku sambil menggoreng daging

". . . . ti.  . tidak?" katanya 

"bagus. . dan aku tidak akan pernah menyuruhmu melakukan hal yang jahat kepada orang lain, maupun kepada dirimu sendiri. . mengerti?" kataku

sylvie mengangguk sambil matanya terus memandang daging goreng yang terus terusan mengeluarkan bau yang sedap. 

"kamu lapar sylvie?" tanyaku

sylvie tidak menjawab apa - apa, tampaknya dirinya sudah sangat terpesona dengan aroma dan kenampakan daging goreng buatanku. aku pun sedikit tersenyum sambil kembali mengelus rambutnya. +

"tu. .tuan. .bolehkah aku bertanya?" katanya


 "eh? boleh. . kamu mau tanya apa?" kataku

"umm. . uh. ."

sylvie menundukkan kepalanya sambil memainkan bajunya.

"ayo. . katakan saja. .tidak apa - apa. . " kataku

"a. .aku mungkin tidak bisa memasak. .dan tubuhku juga tidak dapat mengerjakan. . pekerjaan berat. . ta. tapi. .apakah ada yang bisa saya bantu?" katanya sambil menundukkan kepalanya+

"eh? kenapa kamu bertanya seperti itu?" kataku

"a. . aku ingin. .merasa berguna. . untuk tuan. . " katanya

"hmm. .bagaimana ya? aku terbiasa mengerjakan semua pekerjaan sendiri. .hmm tapi kalau kamu mau membantuku, mungkin kamu bisa membantuku mencuci piring. . atau sedikit mebantu bersih - bersih" kataku

"t. . tentu saja. .akan saya kerjakan. .te. . terima kasih tuan" katanya sambil menatap mataku

sebenarnya aku sendiri merasa tidak enak meminta bantuan sylvie, melihat kondisi tubuhnya yang masih terlihat lemas, namun seketika aku menyetujuinya, sylvie untuk pertama kalinya dapat mengangkat wajahnya dan menatapku secara langsung. mungkin lebih baik kubiarkan dia mengerjakan pekerjaan yang ringan terlebih dahulu. 

hingga akhirnya kami pun makan malam bersama lagi. sylvie sedikit terlihat beda malam ini, ia tampak makan dengan lahap dan dengan cepat ia menghabiskan makan malamnya. 

"he. . hey awas nanti kamu tersedak. ." kataku 

namun sylvie sama sekali tidak menghiraukan perkataanku. tampaknya ia sangat lapar setelah seharian aku tinggal bekerja. hingga beberapa menit kemudian, kami berdua pun  telah merapikan seluruh peralatan makan kami. namun sesaat sebelum aku ingin membawa peralatan makan kami ke tempat cuci piring, aku merasa ada seseorang yang menarik lengan bajuku. 

"tu. .tuan. . b. .biar sylvie saja. ." katanya

"eh? i . . iya. . tidak apa apa. . aku saja yang membawa ke tempat cuci piring. .nanti akan kubiarkan kamu yang mencuci. . ok?" kataku

tampaknya sylvie tidak melupakan apa yang sudah kujanjikan tadi setelah memakan daging itu. aku memperhatikan sylvie sembari ia mulai mencuci piring - piring kotor itu. hingga tak kusangka diriku tertidur lelap di sofaku sambil menunggu sylvie selesai mencuci piring kami berdua. 

"tu. .tuan. .a. .aku sudah selesai. ." kata sylvie sambil mencoba untuk membangunkanku

"uh. .ugh. .si . . siapa?" kataku masih setengah tersadar

"a. .apakah ada yang bisa kubantu lagi tuan?" kata sylvie

akhrnya aku pun membuka lebar mataku dan melihat ke arah jam yang terletak tak jauh dari sofaku. waktu saat itu menunjukkan pukul 10 malam. 

"uh. . sylvie. .kamu tidak tidur?" tanyaku

"sylvie. . akan tidur bila tuan sudah mengijinkan. ." katanya

"aduuh. . sylvie. .kamu boleh tidur. .kapanpun kamu mau. .kamu tidak perlu menunggu perintah dariku. ." kataku sambil mengusap kedua mataku. 

". . . . ." 

sylvie hanya mengangguk kecil dan kembali terduduk di lantai di dekat sofaku. 

"hey sylvie. . boleh aku bertanya?" kataku

sylvie mendongakan kepalanya sambil menatapku. 

"luka - luka di tubuhmu itu. . kamu dapatkan dari mana?" tanyaku

". . . . . ." 

sylvie tampak murung sambil menundukkan kepalanya. 

"ti. .tidak apa - apa kalau kamu tidak ingin menceritakannya. . tapi apakah itu masih sakit? kamu tahu sendiri aku seorang dokter, aku dapat membantu kalau merasakan sakit atau tidak nyaman pada luka - luka itu" kataku

"ti. .tidak. .tuan.. . s. sylvie baik - baik saja. .luka ini tidaklah sakit. ." katanya sambil memandangi bekas luka di telapak tangannya

"kamu yakin? aku sempat memperhatikan beberapa kali wajahmu tampak sedikit tidak nyaman ketika lukamu tersentuh. . benar tidak?" kataku

" . . . ."

"sylvie?" 

aku mencoba untuk meraih kedua tangan kecilnya sambil mencoba mengusap bekas luka di tangannya. .

"ah . . " 

sylvie menutup kedua matanya sambil sedikit merintih. aku pun melepaskan peganganku dan memperhatikan kulit sekitarnya yang berwarna kemerahan. 

"ini. . bukan merupakan luka, melainkan kulitmu. . yang sangat sensitive bahkan dengan sentuhan sekecil itu. ." kataku

sylvie hanya terdiam saja sambil meletakkan tangannya di pahanya yang terlipat di lantai. 

"hmm. . mungkin aku memiliki sesuatu untuk membantu mengurangi rasa sakitnya. .tunggu sebentar ya. ." kataku sambil beranjak dari sofaku

beberapa saat kemudian aku pun kembali  sambil membawa seember air hangat, sebuah handuk kecil, serta sebotol cairan yang berwarna kemerahan. 

"hm. .mungkin ini ialah salah satu bentuk hipersensitivitas dimana seseorang merasakan sakit yang berlebihan bahkan dengan sentuhan seminimal mungkin. ." kataku

sylvie hanya memandangiku dengan wajah yang kebingungan. 

"ah. .maafkan aku. .aku jadi bicara sendiri. . ayo sini berikan aku tanganmu. ." kataku

tanpa berkata apa - apa sylvie pun memberikan tangannya kepadaku. aku mulai membasahi tangan sylvie dengan air hangat dan handuk. aku dapat melihat sylvie menutup kedua matanya sambil menyeringai dan sesekali merintih.

"lain kali. . kalau kamu memerlukan sesuatu, apapun itu. . kamu bisa katakan padaku. .ok?" kataku sambil mulai membasuh tangan sylvie dengan handuk basah itu. 

"i . .iya. . ahh" rintih sylvie

aku pun mulai membasuh tangannya dengan cairan obat untuk mengurangi rasa sakit tersebut, membalutnya dengan kain perban, serta membersihkan sisa sia obat yang merembes keluar. aku pun juga melakukan hal yang sama kepada kedua kaki sylvie yang juga terdapat banyak bekas luka tersebut. 

"fiuuh. .kita akan lihat bagaimana hasilnya besok. .semoga saja obatnya dapat bekerja dengan baik. ." kataku sambil mengusap dahiku

aku pun kembali mencuci handuk yang penuh dengan cairan obat itu ke dalam ember. 

"sekarang. . tinggal bagian kep. . whaaa~" jeritku sambil menutup kedua mataku

sesaat setelah aku membalikkan pandanganku kembali pada sylvie, aku melihat sylvie sedang mencoba untuk membuka pakaiannya. 

"syl. .sylvie tunggu. .a . .alangkah baiknya kalau dirimu berbalik badan terlebih dahulu sebelum kamu membuka pakaianmu. ." kataku sambil memalingkan wajahku

"ba . . baiklah tuan. ." kata sylvie

sylvie pun membalikkan tubuhnya membelakangi diriku sambil menutupi bagian dadanya dengan pakaiannya yang sudah ditanggalkan. setelah itu pun aku, tanpa berkata - kata langsung melakukan hal yang sama untuk mengobati lukanya. luka di bagian punggung dan dada sylvie sangatlah besar dan banyak, membuatku kembali berpikir atas apa yang sebenarnya terjadi padanya di masa lalu. 

"hmm. . sylvie. . apa yang membuat kulitmu menjadi seperti ini?" tanyaku lagi

sylvie hanya terdiam sambil memakai kembali pakaiannya. 

"huft. . aku hanya penasaran saja. . dengan luka seperti itu. .bagaimana kamu bisa bekerja sebagai budak oleh tuanmu yang dulu?" kataku sambil membereskan peralatan itu. 

". . . tuanku. . dulu selalu senang. . mendengarkan rintihan sylvie. . terutama apabila sylvie merasakan sakit. .luka ini. . diakibatkan olehnya. . dengan menyiram sylvie. .dengan semacam cairan. .aku tidak tahu apa. ." katanya sambil mengusap tangannya yang terbalut kasa. 

"a. .apa!?" kataku dengan nada yang agak tinggi

". . . .ma. .maafkan aku tuan. ." kata sylvie sambil menundukkan kepalanya

"ti. .tidak. .bukan itu, benarkah ia melakukan hal sekejam itu kepadamu?" kataku

sylvie tidak menjawab pertanyaanku, ia hanya menundukkan kepalanya sambil menutup matanya. 

"huuft. . dengarkan aku sekarang sylvie. . tidak apa - apa kalau kamu tidak ingin menceritakan tentang majikanmu yang dulu, tapi aku mau. .mulai sekarang aku disini yang menjaga dan merawatmu. . sudah tidak ada lagi tuan yang akan membuatmu sakit lagi. . sekarang kamu sudah mendapatkan rumah baru. . tuan yang baru. . semuanya baru. . jadi aku mau kamu lupakan semua kejadian yang terjadi di masa lalumu. .kamu mengerti?" kataku sambil menatap wajah sylvie

" . . . . ." 

sylvie masih tetap terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya kepadaku. aku pun kembali mengusap kepala kecilnya ,namun sylvie masih saja menunjukkan wajah yang tampak datar. . seperti biasanya

 

"baguslah kalau kamu sudah mengerti. ." kataku sambil mengusap kepala dan tersenyum kepadanya

"a. .aku tidak mengerti. .kenapa tuan senang sekali mengusap rambutku yang usang. ." katanya perlahan

"eh? maksudnya?" tanyaku 

"ma. maafkan aku tuan. .a. .aku hanya tidak tahu harus memberikan respon apa. .setiap tuan mengusap rambutku. . agar tuan merasa senang. ." kata sylvie

"emmm. .errr. . .bagaimana ya? hmm. .OH! lihat . . sekarang sudah hampir tengah malam. .lebih baik kamu beristirahat saja dulu. .agar obat itu dapat bekerja dengan baik" kataku sambil berdiri dan bersiap - siap menuju kamarku.

". . . . .ba. . baiklah tuan. .selamat malam. ." kata sylvie dengan wajah yang terlihat datar

"uh. .i . . iya selamat malam sylvie. . jangan lupa untuk mengenakan selimut dan mematikan lampu di kamarmu agar kamu dapat beristirahat lebih enak. ." kataku

"ba . . baiklah. .uh. . tu . . tuan?" kata sylvie sambil melihatku

"iya?"

"terima . .kasih banyak. . su.. sudah mau menerima sylvie. .disini . .dan terima kasih. . atas semua hal yang tuan lakukan pada sylvie. ." katanya

aku pun bersandar pada pintu kamarku sambil tersenyum kepadanya. 

"hehe. . iya. . sama - sama. . sylvie. .senang aku memiliki seseorang untuk menemaniku di sini. ." kataku

". .ah. .i. . iya. . tuan" kata sylvie dengan wajah sedikit memerah

entah aku menyadarinya atau tidak ketika wajah sylvie tampak memerah dan ia membalikkan tubuhnya setelah sedikit terkejut mendengar jawaban terakhirku padanya. hingga akhirnya aku pun mengganti pakaianku, dan mengakhiri malam yang panjang itu dengan tenang. . 


to be continued part 3

~Make over~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

How to Save a Life part 3

S Rank Boukensha de aru Ore no Musume-tachi wa Juudo no Father Con deshita