02 - Si sulung, Elsa



Setelah pergi dari ibukota kerajaan, aku kembali ke kota asalku, Desa Yuzuha.

Tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan dan pergi untuk menjadi seorang petualang.

Orang tuaku telah meninggal ketika aku masih muda, tetapi rumah orang tuaku masih ada di sana.

Penduduk desa kadang-kadang membersihkannya, kalau-kalau aku pulang. Berkat itu, aku bisa menjalani kehidupan yang lancar.

Orang-orang desa menyambutku, yang kembali setelah menyerah pada impian petualangku.

Namun, mereka terkejut aku kembali dengan ketiga bayi ini. Aku membuka semua kepada penduduk desa tanpa menutupi apa pun.



Dan sepuluh tahun kemudian――.

Gadis-gadis yang aku ambil telah berumur 10 tahun.


"Yaaa!"


Gadis dengan rambut perak ―― Elsa mengayunkan pedang kayu kepadaku.

Anak perempuan tertua dari tiga bersaudara, ia memiliki wajah yang bermartabat.

Tingginya lebih tinggi dari anak-anak pada usia yang sama.

Dia mengayunkan pedang dengan tajam dan kuat sehingga orang tidak bisa menganggapnya anak berusia 10 tahun.


――Tapi dia masih anak-anak.


Aku mengambil serangannya dengan pedang kayu tanpa kesulitan.

"Eiei!"

Elsa menyerang dengan berteriak.Keputusan cepatnya yang bagus adalah poin kelebihannya.

Ketika aku menghindari pukulannya saat aku melangkah, aku mengaitkan kaki kananku di kakinya.

Pusat gravitasi mengayun ke depan.


"Wawa, wa, waa."

Elsa mencoba mendapatkan kembali keseimbangannya dengan satu kaki.

Aku menuju padanya――Pocari.

Dengan lembut aku mengayunkan ujung pedang kayu itu.

Itu adalah faktor penentu, dan Elsa menabrak tanah. Itu menjadi postur canggung dengan pantatnya mencuat di sini.


"Adudududuh.....", dia memegangi kepalanya.

"Game set, oke."


Aku tertawa.

Uuh ..... Seperti yang diharapkan dari chichiue. Aku tidak bisa memukul dengan pedangku lagi. Meskipun aku benar-benar mengerahkan semuanya hari ini....."

"Fufu. Aku masih tidak boleh mendapatkan pukulan dari putriku tercinta."


Aku tersenyum pada Elsa.

Bahkan jika aku mengatakan bahwa aku mengundurkan diri sebagai seorang petualang, aku masih melakukan pelatihan. Masih terlalu dini untuk mendapat pukulan dari putriku yang berusia sepuluh tahun.

Aku masih berusia 27 tahun.

"Tapi Elsa juga dalam garis yang baik. Kamu memiliki ilmu pedang yang lebih baik daripada aku dulu. Kamu mungkin akan jadi seorang pendekar pedang yang hebat dalam kondisi ini."

"Aku bisa menjadi pendekar pedang seperti papa...... seperti chichiue juga?"

"Ya, tentu."


Dengan lembut aku membelai rambut perak Elsa."Juga, bukankah sulit untuk memanggil. Tidak apa-apa memanggilku papa, tahu?"


"――!"


Pipi Elsa dengan cepat menjadi merah.

"..... Aku, aku tidak bisa melakukan itu. Aku seorang pendekar pedang. Aku harus menjaga jarak dari kelemahan dan terus melakukan latihan pedang. Jika tidak, aku tidak bisa menjadi pendekar pedang kelas satu."

"Apakah istilah "papa" suatu kelemahan?"

"Ya. Memanggil papa dan makan makanan manis adalah kelemahan. Pendekar pedang harus selalu kuat!"


Tampaknya ada sosok pendekar pedang yang ideal di Elsa. Mungkin aku juga mempengaruhinya dengan membaca kisah heroik pendekar pedang di rumah.

"Jadi begitu. Sayang sekali. Camilan hari ini adalah pai apel. Kamu tidak bisa makan makanan manis karena itu kelemahan ya."

"――Pa, pai !?"

Mata Elsa bersinar. Kemudian ekspresinya tampak seperti menginginkan sesuatu, dia bergumam, sambil membuat kedua jari telunjuknya saling bersentuhan.

"..... Hari ini, aku agak lemah."

Elsa lemah untuk makanan manis. (bisa juga: Elsa masih naif)

Ketika aku tersenyum, aku menarik tangan Elsa dan mulai berjalan.

Di telapak tangannya yang kecil, ada kapal dari ayunan pedang.

Dia――Elsa adalah salah satu dari tiga bersaudari yang tertarik pada ilmu pedang.

Matanya bersinar ketika dia melihat pemandangan aku mengayunkan pedang di taman.

Setiap kali aku mengayunkan pedangku, dia senang dengan bertepuk tangan.

Bahkan ketika dia menangis di malam hari, dia tenang ketika aku memberinya pedang kayu.

Ketika dia masih bayi, atau sekarang ketika dia berusia 10 tahun, Elsa selalu tidur sambil memeluk pedang kayu.

Ketika dia melakukan itu, dia merasa tenang dan tentram.

"Aku ingin menjadi petualang seperti chichiue ketika aku besar nanti, dan aku akan mengalahkan naga yang chichiue tidak bisa kalahkan."

Elsa mendengus dan menyatakannya padaku.

Gadis-gadis itu tahu bahwa aku adalah seorang petualang.

Penduduk desa telah berbicara kepada mereka.

Kaizer adalah pengguna pedang nomor satu di desa, dan dia adalah jenius termuda dalam sejarah yang menjadi petualang A-rank.

Ada beberapa hal yang aku tidak suka, meskipun....

Ketika Elsa mendengarnya, dia mengagumi para petualang.

Dan aku takut dia akan mencoba mengalahkan Naga Kuno itu, yang dikatakan penduduk desa bahwa aku tidak bisa mengalahkannya.

Itu adalah perasaan yang rumit bagiku.

Sebagai seorang ayah, saya tidak ingin putriku terjebak dalam bahaya dengan menjadi seorang petualang.

Selain itu, Naga Kuno adalah monster yang tidak bisa kukalahkan, dan pada saat yang sama, pelaku yang membakar kota kelahiran Elsa.

Jika Elsa mendekatinya.....


"... Tidak, ini adalah ego orang tua."


Aku menggelengkan kepala untuk membuang pikiran itu dari kepalaku.

Bukan aku yang memutuskan hidup Elsa. Tapi Elsa sendiri.

Jika dia ingin menjadi pendekar pedang dan petualang, tidak ada alasan bagiku untuk menghentikannya. Itu hanya memaksakan kenyamanan egois orang tua.

Jika begitu――.

Aku akan mengajarinya ilmu pedang sehingga dia bisa menjadi lebih kuat setidaknya. Sebagai pemain pedang, untuk mendapatkan kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri dan orang-orang yang dicintainya.

Itulah yang bisa aku berikan kepada Elsa sebagai orangtua.


BACK   NEXT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

How to Save a Life part 3

S Rank Boukensha de aru Ore no Musume-tachi wa Juudo no Father Con deshita